Tampilkan postingan dengan label Coretan Sastra. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Coretan Sastra. Tampilkan semua postingan

Sedingin laut lepas

Selamat pagi bayangan senduku.
Bagaimana kabar dia? Sebut saja dia yang kini menjadi ratu di hatimu.
Dia yang telah membuatmu berpaling dariku. Dia yang menjadi alasanku untuk enyah dari hidupmu.



Tidakkah kau tau?
Dulu, Aku ingin menjadi bumi. Biarpun tak bersinar, bumi akan selalu menjadi tempatmu bernaung; melindungimu ketika kau sibuk mengagumi bintang. Namun itu dulu, dulu sebelum ada dia.

        Beberapa pekan setelah aku memutuskan menjauhimu, suasana malam selalu mengajakku bercanda bersama sepi. Hening menghadirkanmu dalam kenangan yang bertubi-tubi. Sendu datang memenuhi pikiran dan dadaku. Sesak. Sakit. ~

Sederhananya, kita hanya perlu meninggalkan apapun yang membuat sedih lalu jaga setiap bahagia sambil mengucap terima kasih. Terimakasih sekali lagi, atas beberapa luka yang sebelumnya sudah kau pupuk dengan harapan cinta.

Kini, kita tak lebih hanya sebatas angin bebas. Berlalu begitu saja tanpa ada sapa. Melewati lorong dengan saling diam. Hening, membisu, seperti tak pernah mengenal sebelumnya. Biarlah, toh hubungan adalah suatu proses bukan? Sebelum sedingin laut lepas ini, kuakui kau pernah sehangat napas.


Sudahlah, pesanku kepada kalian yang kini menjalin hubungan. Jika memang belum benar benar dihalalkan oleh janji suci pernikahan. Tolong jangan terlalu terikat. Karena pada akhirnya, kita hanya punya dua pilihan; melepaskan atau dilepaskan.


Selamat tinggal juliku.
Selamat tinggal puisiku.
Harapku, semoga bahagia dengan ratu barumu.

Bojonegoro, 28 Februari 2017



Terlepaslah topeng mereka


Harus seberapa kuat menahan?
Tak jarang wanita berkata “Aku gpp kok” sambil emoticon senyum.
Atau bahkan “aku kan strooong” sambil ketawa centil

Taukah kalian wahai kaum adam?
Pada hakikatnya itu semua adalah tipu daya dari hawa.
Mereka hanya ingin menunjukkan kekuatan dibalik tabir kelemahan.
Mereka hanya ingin bersembunyi pada kegundahan hati.
Mencoba melarikan diri dari keterpurukan jiwa.
Membungkus kerapuhan hingga tak terlihat sama sekali.

Mereka boleh saja bertopeng pada insan, tapi tidak dengan Tuhan.
Serapat apapun mereka menyembunyikan, Tuhan akan menemukan.
Sekuat apapun menahan, mereka pasti akan terkalahkan.
Dan pada akhirnya,
Mereka mengadu, mereka tersedu, mereka terbelenggu.
Bercurah do’a, berlinang air mata.

“Terlepaslah topeng mereka, ketika sepertiga malam menjadi waktu mengadu"



Duhai Nahkoda


Duhai nahkoda.

Telah kutitipkan ucapan "selamat" pada terumbu karang.
Sudahkah kau mendengarnya?
Juga bunga karangan yang aku gantungkan pada markasmu.
Sudahkah itu ada di tanganmu?

Apresiasi dariku karna keberhasilanmu.
Keberhasilan atas keinginanmu bebas berlayar.
Keberhasilan atasmu mengarungi lautan merah jambu.
Melabuhkan kapal dimanapun kau suka.
Juga enyah begitu saja kapanpun kau mau.

Hingga tiba saatnya.
Lagi dan lagi, kau tiba di pelabuhan baru.

Sekali lagi, selamat nahkoda !!
Kau pasti puas.

Bojonegoro, 19032016

Qolbun

Bun..bun..
Pantas saja aku buta, kau suruh anak buahmu menancapkan tombak fatamorgana pada bola mataku. 
Tak heran jika aku tuli, permaisurimu telah meniupkan gelora api berasap nafsu.
Tak hayal jika mulutku bisu, ayahanda yg harusnya kau hormati malah kau hasut untuk menyumbat lobang haq dengan nista dan dusta
Ternyata kaulah dalang yg memengaruhi mereka bun.
Tak kupingkiri, kaulah seucil daging yg amat menentukan tabiat manusia.
Tunggu pembalasanku bun. 
Aku akan menyeretmu. Memenjarakanmu pada raja kebenaran.
Terimakasih telah membuatku buta, tuli, dan bisu..
Aku akan mencari kunci hidayah yang telah kau buang ke lautan. 
Aku akan berkelana mencari kebenaran.
16032016

Curahan Kepada Malam

Malam?
Tega nian kau.
Kegelapanmu menyeretku ke tahta rindu.
Rindu yang tak semestinya muncul di permukaan qolbu.
Bintang?
Asal kau tahu?
Aku masih saja menjadi pengamat, meski tak lagi bertegur sapa.
Aku masih saja terjerat rantai asmara.
Bulan?
Mungkin benar apa katamu.
Bukan cinta jika membuat Allah murka.
Dan do'a lah simbolis kediaman cinta.
Dengan do'a, aku pasrahkan hati pada yang Maha Kuasa.
Diberdayakan oleh Blogger.

Blogger templates

Blogroll